Halaman

    Social Items

Setelah Murai Batu (MB) bakalan ngevoer total, maka perawatan selanjutnya yang harus kita lakukan adalah untuk membuat Murai Batu bakalan tersebut mapan dan berani berkicau dengan lantang (ngeplong) dan berikut ini tahapan perawatan Murai Batu (MB) bakalan agar cepat bunyi ngeplong dan gacor:

• Setelah Murai Batu (MB) terpantu sudah ngevoer total, seminggu kemudian kita sudah mulai dapat melakukan perawatan mandi secara rutin dan juga penjemuran secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan Murai Batu tersebut dalam menahan panas Matahari.
Embunkan Murai Batu (MB) bakalan setiap pagi mulai jam 05.00 untuk menghirup udara segar dan menikmati suasana pagi hari yang merupakan waktu paling favorit bagi burung-burung di alam bebas untuk berkicau saling bersahutan, sehingga Murai Batu bakalan juga akan terpancing untuk berkicau dengan lantang (ngeplong).
Pada tahap ini sebaiknya Murai Batu (MB) tidak perlu dikerodong pada siang hari (cukup dikerodong pada malam hari saja). tapi penempatannya tetap dilokasi yang sepi/tenang dan jauh dari berbagai macam gangguan untuk mengurangi tingkat stresnya.
Untuk pakan hariannya tetap disediakan voer kasar ditambah jangkrik 5 ekor pada pagi hari dan 5 ekor pada sore hari. Jangan memberikan jangkrik terlalu banyak agar Murai Batu (MB) bakalan masih merasa lapar dan terbiasa memakan voer yang disediakan karena tidak ada pakan lainnya.
Berikan kroto segar seminggu 3 kali dengan porsi satu cepuk untuk setiap kali pemberian. Kroto sebaiknya diberikan pada pagi hari setelah dimandikan dan hendak dijemur.

• Setelah satu atau dua minggu ditempatkan dilokasi yang sepi, Murai Batu (MB) bakalan tersebut mulai bisa digantang di tempat yang agak ramai dan banyak aktivitas Manusia disekitarnya.
Awalnya Murai Batu (MB) bakalan tersebut memang akan glabrakan, bahkan bisa sampai menabrak jeruji kandang dan kadang juga sampai menyebabkan luka pada bagian atas paruhnya. Tapi hal itu tidak akan berlangsung lama, karena setelah beberapa hari ditempatkan dilokasi yang ramai, Murai Batu akan mulai terbiasa dengan lingkungan barunya dan sudah mulai tenang.

• Setelah dua atau tiga minggu ditempatkan dilokasi yang ramai, Murai Batu (MB) bakalan sudah mulai dapat beradaptasi dan mulai mapan yang ditandai dengan sudah mulai ngeriwik dengan sesekali ngeplong terutama pada saat turun hujan. Dan dua atau tiga minggu berikutnya Murai Batu (MB) sudah mulai rajin ngeplong.

• Setelah Murai Batu (MB) bakalan tersebut mengalami mabung pertama selama kita pelihara, maka akan terlihat jelas perubahan pada karakternya, terutama pada gaya, mental, dan variasi kicauannya, bahkan sudah mulai bereaksi dan terpancing emosinya ketika mendengar suara burung lain. Pada tahap ini Murai Batu sudah bisa mulai ditrek untuk melihat mental dan juga bakatnya.
Tahapan perkembangan di atas adalah tahapan secara umum, karena ada Murai Batu (MB) yang dapat lebih cepat mapan/jadi dan ada juga yang lebih lama, karena semua tergantung dari mental dan karakternya masing-masing serta dipengaruhi juga dari pola perawatan yang diterapkan.
Tapi umumnya 2-3 bulan setelah kita rawat, Murai Batu (MB) sudah berani bersuara ngeplong, walaupun ada juga yang baru satu minggu dipelihara sudah berani ngeplong.

Demikian sedikit informasi tentang "Tahapan perawatan Murai Batu bakalan agar cepat ngeplong". Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB), dapat dibaca pada artikel SANACHINET yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
untuk membuat Murai Batu bakalan tersebut mapan dan berani berkicau dengan lantang (ngeplong) dan berikut ini tahapan perawatan Murai Batu (MB) bakalan agar cepat bunyi
Murai Batu (MB)

Tahapan perawatan Murai Batu bakalan agar cepat ngeplong

Cara ternak burung anis merah yang benar agar sukses bertelur sampai menetas di butuhkan trik-trik khusus yang harus anda ketahui seperti berikut ini. Burung Anis Merah (AM) adalah salah satu jenis burung kicau yang pernah sangat populer di Indonesia. Burung ini memiliki keistimewaan tersendiri selain suara kicauannya yang merdu dan bervariasi, Anis Merah (AM) juga memiliki gaya berkicau teler yang khas. Hal itulah yang menjadikan burung ini masih memiliki banyak penggemar sampai saat ini dan harganya juga masih tetap stabil.
Dengan melihat potensi tersebut, banyak Kicau Mania yang mulai mencoba untuk membudidayakan burung ini. Tapi untuk beternak Anis Merah (AM) memang tidak semudah seperti beternak burung lain seperti Kenari, Lovebird, Kacer, dan Murai Batu, karena Anis Merah (AM) dikenal sebagai burung kicau yang rawan stress.
Berikut ini beberapa tahapan dalam beternak burung Anis Merah (AM) agar berhasil:
• Menyiapkan kandang ternak
Pilihlah lokasi kandang yang tenang dan aman dari gangguan, baik gangguan Manusia maupun binatang predator dan juga mudah dalam pengawasannya.
Siapkan kandang ternak dengan ukuran sekitar 50x50x50 cm. Rangka kandang bisa dibuat dari kayu, besi, atau alumunium dengan dinding kandang menggunakan kawat ram.
Kandang ternak juga bisa dibuat dari dinding bata atau batako pada bagian samping kanan, kiri dan belakang, sedangkan bagian depan kandang menggunakan kawat ram dan lantai kandang menggunakan tanah atau pasir. Sediakan juga tangkringan/tenggeran dari ranting kayu agar terkesan alami. Tempatkan juga tanaman hidup didalam kandang ternak.
Sediakan tempat pakan, tempat minum dan juga bak mandi didalam kandang ternak. Selain itu berikan juga bolam lampu 5-10 watt sebagai penghangat suhu didalam kandang saat musim hujan.
• Pemilihan indukan burung Anis Merah (AM)
Pilihlah indukan Anis Merah (AM) yang berkualitas karena nantinya akan sangat berpengaruh pada kualitas anakan yang dihasilkan.
Ciri-ciri indukan Anis Merah (AM) yang berkualitas:
- Calon indukan jantan maupun betina harus sehat dan tidak memiliki kelainan atau cacat fisik.
- Pilihlah calon indukan yang aktif bergerak dan memiliki suara kicauan yang bagus, bervariasi dengan volume yang keras.
- Memiliki postur tubuh yang proporsional dengan warna bulu yang cerah dan mengkilap.
- Pilihlan calon indukan Anis Merah (AM) jantan yang sudah berusia sekitar 1 tahun dan usia calon indukan betina sekitar 1,5-2 tahun.
• Proses perjodohan calon indukan Anis Merah (AM)
Pada tahap awal proses perjodohan, tempatkan Anis Merah (AM) betina didalam kandang ternak, sedangkan calon indukan jantan ditempatkan dikandang yang berbeda dengan posisi saling berdekatan.
Selama proses perjodohan, perhatikan perilaku kedua burung. Jika kedua burung sudah terlihat akur dan selalu berdekatan terutama pada saat tidur di malam hari, maka bisa dikatakan jika keduanya sudah mulai berjodoh. Selanjutnya kedua calon indukan Anis Merah (AM) bisa disatukan didalam kandang ternak, tapi harus tetap dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Selama proses perjodohan berlangsung, siapkan sarang yang nantinya akan digunakan sebagai tempat untuk bertelur. Sarang bisa dibuat dari batok kelapa, anyaman rotan atau kotak kayu yang didalamnya diberi sabut kelapa, rumput kering atau daun cemara kering.
Selain diletakkan didalam kotak, letakkan juga sebagian bahan-bahan pembuat sarang didasar kandang ternak agar disusun sendiri oleh indukan Anis Merah (AM) atau biasa disebut "ngunjal" karena biasanya burung akan mempersiapkan sarangnya sendiri setelah melakukan perkawinan.
• Pemberian Pakan dan extra fooding (EF)
Pada saat ditangkarkan, berikan pakan alami berupa buah-buahan seperti pisang, apel dan pepaya. Selain buah-buahan, berikan juga lebih banyak extra fooding (EF) seperti jangkrik, kroto dan cacing sebagai asupan protein untuk mendongkrak tingkat birahi kedua indukan Anis Merah (AM).
Pada saat indukan Anis Merah (AM) betina menjelang masa bertelur, porsi pemberian jangkrik, kroto dan cacing diberikan lebih banyak dan setelah indukan Anis Merah (AM) betina selesai bertelur porsinya bisa dikurangi. Extra fooding (EF) diberikan pada pagi dan sore hari.
Burung Anis Merah (AM) menyukai lingkungan yang dingin, oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan air pada bagian dasar kandang ternak agar suhu didalam kandang terasa lebih lembab dan dingin sehingga burung merasa lebih nyaman dan tidak stress.
Setelah melakukan proses perkawinan dan selesai menyusun sarangnya, indukan Anis Merah (AM) betina akan mulai bertelur sebanyak 2-4 butir dan akan di erami selama 2 minggu sampai telur-telurnya menetas.
Setelah telur-telurnya menetas, sebaiknya biarkan anakan/piyik di asuh dulu oleh induknya sampai beberapa hari agar fisiknya lebih kuat dan bisa diloloh sendiri.
• Kebersihan kandang dan perlengkapannya
Kebersihan kandang merupakan bagian yang cukup penting dalam beternak Anis Merah (AM) agar burung selalu dalam kondisi sehat dan tetap produktif.
Bersihkan tempat pakan, tempat minum dan juga bak mandi secara rutin agar tidak tercemar kuman dan bakteri yang bisa mengganggu kesehatan burung.
Ganti pakan dan air minumnya dengan yang baru setiap hari. Bersihkan juga kotoran yang menumpuk didasar kandang seminggu sekali.

Demikian sedikit informasi tentang "Tips agar sukses beternak burung Anis Merah". Untuk informasi lain seputar burung Anis Merah (AM), dapat dibaca pada artikel SANACHINET yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Indukan Anis Merah (AM) jantan dan betina

Tips cara agar sukses beternak burung Anis Merah

Burung Sogok Ontong (Sogon) saat ini mulai banyak dipelihara oleh para Kicau Mania sebagai burung masteran karena memiliki suara kicauan dengan crecetan tajam dan ngeroll yang khas.
Agar burung Sogok Ontong (Sogon) cepat jinak dan gacor, sebaiknya memilih burung yang masih muda karena lebih mudah beradaptasi dan lebih mudah dibentuk.
Tapi untuk membedakan jenis kelamin burung Sogok Ontong (Sogon) yang masih muda/anakan yang belum tumbuh bulu metaliknya memang cukup sulit karena antara burung jantan dan betina memiliki penampilan fisik yang hampir serupa.
Tapi jika di amati lebih seksama sebetulnya ada ciri-ciri khusus yang membedakan antara burung Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan.
Berikut ini ciri-ciri fisik yang membedakan antara burung Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan:
• Ciri-ciri burung Sogok Ontong (Sogon) jantan muda/anakan:
- Warna bulunya kuning cerah.
- Alisnya diatas matanya lebih panjang ke belakang dengan warna kuning pudar.
- Sorot matanya lebih tajam dan perilakunya lebih agresif.
• Ciri-ciri Sogok Ontong (Sogon) betina muda/anakan:
- Warna bulunya kuning pudar agak keputihan.
- Alis di atas matanya lebih pendek berwarna putih tegas.
- Sorot matanya sayu dan perilakunya tidak terlalu aktif.
Kedua ciri-ciri tersebut adalah yang paling mudah dilihat secara fisik untuk membedakan burung Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan yang belum keluar bulu trotol metaliknya untuk burung jantan.
Untuk lebih jelasnya anda bisa nelihat video tutorial berikut ini:
Perbedaan Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan


Demikian sedikit informasi tentang "Perbedaan Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan". Untuk informasi lain seputar burung Kolibri, dapat dibaca pada artikel SANACHINET yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Anakan burung Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina

Perbedaan Sogok Ontong (Sogon) jantan dan betina muda/anakan

Burung Sikatan Jawa (Kipasan) sudah lama di kenal dan dipelihara oleh para Kicau Mania. Burung ini memiliki postur tubuh sedang, memiliki suara kicauan yang nyaring dan merdu, serta memiliki gaya yang khas yaitu sering memekarkan seluruh bagian ekornya seperti kipas.
Burung Sikatan Jawa (Kipasan) adalah burung pemakan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya, jadi ketika kita pelihara burung ini juga harus diberikan extra fooding (EF) selain voer sebagai pakan utanya.
Pada musim kawin biasanya burung ini akan membuat sarang berbentuk cawan berukuran kecil, sehingga sulit ditemukan oleh Manusia dan hewan predator. Burung Sikatan Jawa (Kipasan) betina akan bertelur sebanyak 3-4 butir namun jarang sekali sampai bisa menetas semua, apalagi pada saat angin bertiup kencang karena telur-telur burung ini mudah jatuh ketika diterpa angin kencang. Hal itu di akibatkan karena ukuran sarangnya sangat kecil dan tidak tertutup pada bagian atasnya. Anakan burung Sikatan Jawa (Kipasan) juga sering dijumpai keluar dari sarangnya sehingga menarik perhatian hewan predator.
Populasi burung Sikatan Jawa (Kipasan) saat ini sudah semakin langka dan sangat jarang bisa ditemui lagi. Padahal beberapa tahun yang lalu burung ini masih banyak dijumpai dikebun-kebun disekitar pemukiman.
Perawatan burung Sikatan Jawa (Kipasan) sebetulnya sama seperti perawatan burung kicauan jenis lainnya. Hanya saja burung ini mudah sekali stress dan mudah mati jika dirawat dari bakalan (tangkapan hutan).
Perawatan burung Sikatan Jawa (Kipasan) yang masih anakan lebih mudah dibanding burung dewasa liar hasil tangkapan hutan, karena burung Kipasan dewasa tangkapan hitan sangat sulit untuk dilatih makan voer dan sulit untuk dijinakkan serta sulit beradaptasi dengan lingkungan Manusia.
Tapi sayangnya burung Sikatan Jawa (Kipasan) anakan sulit ditemukan dipasaran dan juga di alam bebas. Oleh karena itu jika ingin memelihara burung ini, pilihannya adalah membeli burung Sikatan Jawa (Kipasan) dewasa hasil tangkapan hutan.
Berikut ini tips perawatan burung Sikatan Jawa (Kipasan) agar bertahan hidup dan cepat bunyi:
• Untuk tahap awal jangan terlalu fokus untuk menjadikan burung gacor terlebih dulu, tapi buatlah burung merasa nyaman dengan kandang dan lingkungan barunya.
Setelah burung mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya, kemudian latihlah burung agar mau makan voer kering agar nantinya perawatannya lebih mudah dan tidak merepotkan karena harus selalu meyediakan pakan hidup untuk burung.
Setelah burung sudah merasa nyaman berada didalam kandangnya dan sudah tidak takut lagi dengan keberadaan Manusia disekitarnya, maka burung akan mulai rajin berkicau.
• Mandikan burung Sikatan Jawa (Kipasan) secara teratur setiap pagi sampai basah kuyup agar burung cepat jinak. Setelah dimandikan, burung di angin-anginkan terlebih dulu untuk mengeringkan bulu-bulunya sambil digoda dengan cara memberikan jangkrik langsung dari tangan. Awalnya burung pasti ketakutan dan kelabakan, jadi kita bisa menggunakan lidi yang agak panjang untuk menusuk jangkrik dan menyodorkannya pada burung.
Jika burung tetap tidak mau mengambil jangkrik pada lidi tersebut, kita letakkan saja pada cepuk khusus extra fooding (EF). Lakukan cara ini secara terus menerus sampai burung mau mengambil jangkrik langsung dari tangan kita.
• Agar burung mau ngevoer, campurkan voer halus dengan kroto atau ulat hongkong yang dipotong-potong, perbandingannya voer 60% dan kroto/ulat hongkong 40%. Campuran kroto/ulat hongkong di kurangi porsinya sebanyak 10% setiap satu minggu sekali sampai burung benar-benar mau makan voer kering tanpa campuran kroto/ulat hongkong (UH).
Pantau terus perkembangannya, jika kotorannya sudah berupa voer dengan warna seperti voer yang diberikan berarti burung bisa dipastikan sudah ngevoer.
• Sehabis dimandikan dan di angin-anginkan, kemudian burung dijemur ditempat yang terkena sinar matahari langsung. Posisi gantangan jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah, minimal berjarak 2 meter dari tanah.
Usahakan untuk dijemur ditempat yang ramai lalu-lalang orang agar burung terbiasa dengan keberadaan Manusia. Durasi penjemuran cukup 2 jam saja rutin setiap hari.
• Setelah selesai dijemur, gantang burung ditempat yang teduh atau di bawah pohon yang rindang untuk di angin-anginkan. Coba sodorkan jangkrik dengan tangan atau lidi. Kalau burung belum mau memakan jangkrik langsung dari tangan kita, letakkan saja jangkriknya didalam cepuk.
• Setelah di angin-anginkan selama beberapa saat, pindahkan ditempat yang aman dan banyak lalu-lalang orang agar burung cepat beradaptasi dan terbiasa dengan lingkungan Manusia, sehingga nantinya burung tidak takut berkicau walaupun banyak orang disekitarnya.
• Sore harinya bersihkan kandang hariannya dari kotoran dan sisa makanan yang tercecer agar burung bisa beristirahat dengan nyaman, karna kotoran dan sisa makanan bisa menimbulkan bau yang tidak sedap. Ganti air minumnya dengan yang baru dan berikan jangkrik lagi dengan tangan atau lidi.
• Setelah selesai, masukkan burung kedalam rumah untuk beristirahat dan jangan lupa kandangnya dikrodong agar burung bisa beristirahat dengan tenang. Perdengarkan suara masteran dengan volume yang kecil saja.
• Lakukan cara di atas secara rutin dan konsisten sampai burung bisa beradaptasi dan mau memakan voer total. Setelah burung mapan pasti akan mulai rajin berkicau.

Demikian sedikit informasi tentang "Tips perawatan burung Sikatan Jawa/Kipasan bakalan agar cepat bunyi". Untuk informasi lain seputar burung Sikatan Jawa, dapat dibaca pada artikel SANACHINET lainnya.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Burung Sikatan Jawa/Kipasan

Tips perawatan burung Sikatan Jawa/Kipasan bakalan agar cepat bunyi

Burung kacer gacor juara lomba ini di jual oleh pemiliknya dengan harga yang sangat murah dikira burung bisu. Setelah di ikutkan kontes sama pemilik baru ternyata juara.

Di kira kacer bisu ternyata burung sekoci gacor juara lomba

Memiliki Kacer yang bisa berprestasi tentunya menjadi impian semua Kacer mania. Tapi tentunya tidak semudah yang dibayangkan, karena memelihara Kacer memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dengan segala permasalahannya seperti mbagong, hilang fighter, kanibal dan lainnya yang membuat banyak Kacer mania kemudian menyerah dan memilih beralih haluan bermain burung jenis lain.
Untuk Kacer mania yang berkantong tebal tentunya tidak ada masalah, tinggal beli Kacer yang sudah berprestasi dan tinggal meneruskannya saja dengan perawatan dan settingan dari pemilik sebelumnya.
Tapi lain cerita untuk para Kacer mania yang berkantong tipis, tentunya hanya mampu membeli kacer bahan atau kacer rumahan yang harganya masih terjangkau dan berharap bisa mengorbitkan Kacernya agar bisa berprestasi.
Namun pada kenyataannya sebagian besar hasilnya zonk, karena Kacer-kacer yang ada dipasaran tersebut rata-rata adalah Kacer buangan atau Kacer yang sudah rusak dan sulit untuk diperbaiki, dan akhirnya nasibnya terdampar dipasar burung.
Tapi bukan tidak mungkin impian untuk memiliki Kacer yang bagus dan bisa berprestasi itu bisa diwujudkan dengan modal yang minim, salah satu caranya adalah dengan memelihara Kacer dari trotolan agar bisa dibentuk mental dan karakternya sejak dini.
Untuk memilih trotolan Kacer juga harus diperhatikan beberapa hal berikut ini agar nantinya hasilnya tidak mengecewakan, antara lain:
Jenis kelamin
Pilihlah yang berjenis kelamin jantan, mintalah jaminan jika kita membeli trotolan Kacer dari penangkaran agar kalau ternyata trotolan Kacer yang kita beli tersebut ternyata berjenis kelamin betina bisa ditukarkan.
Demikian juga kalau kita membeli trotolan hutan, usahakan membeli pada pedagang yang sudah kita kenal baik agar ada jaminan kalau ternyata trotolan yang kita beli tersebut berjenis kelamin betina bisa dikembalikan.
Sedangkan untuk ciri-ciri umum untuk trotolan Kacer jantan adalah sebagai berikut:
- Bulu hitam pada anakan/trotolan Kacer jantan warnanya lebih pekat.
- Warna trotolnya terlihat lebih coklat
- Bentuk kepalanya terlihat papak
- Posturnya lebih tegak saat berdiri
- Tingkah lakunya lebih agresif
- Ujung lidah pada bagian dalam yang berbentuk huruf V tedapat spot berwarna hitam
Katuranggan
Dikalangan kicau mania dikenal istilah katuranggan, yaitu cara untuk melihat potensi seekor burung dari bentuk tubuh atau ciri fisiknya. Maka untuk memilih anakan/trotolan Kacer juga perlu diperhatikan ciri-ciri berikut ini untuk meramal potensinya dimasa depan:
- Bentuk tubuh ramping memanjang
- Kedua sayap mengapit rapat dikedua sisi badannya.
- Kepala papak
- Paruh tebal dan panjang
- Mata melotot dengan sorot mata yang tajam
- Kaki besar dengan cengkeraman yang kuat
Perilaku
- Pilihlah trotolan yang tingkah lakunya paling agresif dari yang lain
- Pilih yang nafsu makannya paling rakus
- Pilih yang berdirinya tegak membusungkan dada terkesan seperti menantang.
Perawatan harian untuk Kacer trotolan:
Lingkungan
Setelah mendapatkan trotolan Kacer, saatnya untuk merawatnya dengan perawatan yang baik dan tepat. Usahakan memelihara satu Kacer saja, jangan ada Kacer lain dirumah apalagi yang sudah dewasa dan gacor, karena hal ini akan membuat trotolan Kacer yang kita pelihara akan merasa selalu terintimidasi dan berakibat pada rusaknya mental Kacer trotolan tersebut.
Dalam memelihara Kacer trotolan sebaiknya hanya ditemani burung-burung kecil saja seperti pleci, kolibri dan kenari sebagai masteran untuk menambah variasi isiannya sekaligus untuk menguatkan mental Kacer trotolan tersebut karena dia akan merasa paling dominan dan paling berkuasa di lingkungannya.
Hal ini akan akan berdampak positif nantinya, karena Kacer trotolan tersebut setelah dewasa akan memiliki mental sebagai penguasa wilayah (teritorial), hal ini dikarenakan setiap hari dia merasa menjadi yang paling dominan diantara burung-burung lainnya.
Pakan
Berikan pakan bergizi berupa voor berprotein tinggi dan ekstra fooding (EF) seperti jangkrik, belalang, kroto, dll.
Gelontor pemberian ekstra fooding (EF) sekenyangnya agar pertumbuhan Kacer trotolan tersebut lebih cepat dan sempurna.
Mandi dan jemur
Mandikan dan jemur burung secara teratur, sesuaikan dengan karakternya agar burung selalu sehat.
Bersihkan kandangnya setiap hari agar terhindar dari penyakit.
Penempatan
Pindah-pindah tempat gantungannya agar Kacer terbiasa berkicau ditempat berbeda dan nantinya setelah dewasa tidak menjadi jago kandang yang hanya berani berkicau disatu tempat saja.
Umbaran
Biasakanlah untuk diumbar dari kecil agar staminanya terbentuk sejak dini. Dengan sering menggunakan sayapnya untuk terbang dikandang umbaran maka fisiknya akan semakin fit, staminanya akan semakin prima dan nafasnya akan menjadi lebih panjang.
Baca juga:
Manfaat kandang umbaran/polier untuk burung lomba
Demikian sedikit informasi tentang tips perawatan Kacer trotolan agar memiliki mental fighter yang tangguh. Untuk informasi lain seputar Kacer bisa dibaca pada artikel On kicau yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Kacer trotolan

Tips perawatan Kacer trotolan agar memiliki mental fighter yang tangguh

Cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini dapat menyebabkan berbagai penyakit pada hewan peliharaan, tidak terkecuali pada burung kicauan seperti Murai Batu (MB).
Seringkali burung yang semula sehat dan gacor tiba-tiba menjadi lesu, nyekukruk dan bahkan tidak mau makan dengan kotoran yang encer (mencret). Hal itu bisa disebabkan oleh banyak faktor, bisa karena cuaca buruk, karena terserang bakteri, virus, atau karena sebab lain misalnya saja memakan serangga/kupu-kupu beracun.
Hal yang paling menghawatirkan adalah jika burung sudah tidak mau memakan extra fooding (EF) yang kita berikan seperti jangkrik, kroto dan ulat hongkong (UH). Karena jika sudah begitu maka tinggal menunggu waktu saja sampai burung mati lemas jika tidak segera ditangani. Karena yang terpenting agar burung bisa selamat adalah makanan.
Berikut ini cara menangani burung sakit dan tidak mau makan:
Jika Murai Batu (MB) terpantau tidak mau makan voer ataupun extra fooding (EF) yang kita berikan, pertama yang harus dilakukan adalah segera menangkap burung tersebut dan melolohnya dengan jangkrik, kroto atau ulat hongkong.
Untuk jangkrik, cukup berikan bagian perutnya saja agar burung tidak tersedak, untuk ulat hongkong (UH) usahakan pilih yang masih berwarna putih dan pencet dulu bagian kepalanya agar mati. Sedangkan kroto, berikan yang masih segar dan bersih dari semut-semutnya.
Sebelum dilolohkan pada Murai Batu (MB), olesi dulu extra fooding (EF) dengan vitamin untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi Murai Batu.
Setelah dirasa cukup (jangan terlalu kenyang), kemudian masukkan kembali Murai Batu (MB) kedalam kandangnya lalu dikrodong. Jangan lupa kandangnya dibersihkan dulu, air minumnya juga diganti dengan yang baru. Bisa juga diberikan air seduhan jahe sebagai air minumnya untuk menghangatkan tubuh burung.
Untuk sementara burung tidak usah dimandikan dan dijemur dulu, biarkan istirahat total untuk memulihkan kondisinya. Pantau apakah burung sudah mau makan sendiri atau belum. Kalau belum mau makan, lolohkan lagi extra fooding (EF) secara paksa agar kondisi burung tidak semakin lemas. Lakukan sampai kondisi burung membaik dan mau makan extra fooding (EF) sendiri, baik itu jangkrik, kroto atau ulat hongkong (UH).

Demikian sedikit informasi tentang "Cara mengatasi Murai Batu sakit dan tidak mau makan". Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB), dapat dibaca pada artikel SANACHINET lainnya.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Cara mengatasi Murai Batu sakit dan tidak mau makan. Cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini dapat menyebabkan berbagai penyakit pada hewan peliharaan, tidak terkecuali pada burung (MB) #murai #murai_batu
Murai Batu (MB) sakit

Cara mengatasi Murai Batu sakit dan tidak mau makan

Sekilas burung Sanger mirip dengan burung Gereja dan persis seperti Kenari. Burung Sanger termasuk burung pemakan biji-bijian seperti halnya burung Kenari, dan untuk pola perawatannya juga hampir sama.
Burung Sanger memiliki postur tubuh kecil dan warna kurang mencolok, tapi hal itu tidak menyurutkan popularitas burung ini di kalangan Kicau Mania.
Walaupun penampilannya kurang menarik, burung Sanger memiliki suara kicauan yang nyaring, lantang dan ngeroll. Kualitas suaranya tidak kalah dengan burung kicauan jenis lainnya.
Burung ini termasuk burung yang mudah dipelihara dan cepat gacor jika dirawat dengan tepat. Saat ini burung Sanger juga sudah mulai banyak ditangkarkan dan caranya hampir sama dengan cara berternak burung Kenari. Kedua burung tersebut memang memiliki kesamaan, tapi soal kualitas suara, burung sanger bisa dibilang lebih unggul. Burung Sanger juga banyak disilangkan dengan burung Kenari dan Blacksthroad.
Sebagian besar para Kicau Mania memelihara burung Sanger untuk dijadikan sebagai masteran burung-burung lain seperti Murai Batu (MB), Kacer, Cucak ijo (CI), Kenari, dan burung-burung lainnya, terutama burung-burung lomba. Banyak burung Kenari dari anakan dimaster dengan suara burung Sanger karena akhir-akhir ini banyak dibuka lomba kelas khusus untuk Kenari isian.
Suara burung Sanger memang cocok dijadikan masteran untuk burung-burung lomba karena memiliki karakter suara dengan speed rapat dan ngeroll panjang.
Harga burung Sanger yang cenderung stabil, bahkan bisa dibilang ada peningkatan membuat banyak Kicau Mania yang mulai tergiur untuk menangkarkan burung ini. Meskipun lomba burung kelas Sanger masih sangat jarang, tapi hal itu tidak mempengaruhi popularitas dan daya tarik burung mungil ini.
Jika melihat popularitasnya yang terus menanjak, bukan tidak mungkin jika burung Sanger juga bisa sepopuler Kenari dan Lovebird yang pernah fenomenal.
Sayangnya masih jarang EO yang membuka kelas untuk burung Sanger, padahal burung ini memiliki suara merdu dan unik ketika berkicau. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk ke depannya kelas Sanger akan dibuka diberbagai event besar atau hanya sekedar latber jika peminatnya semakin banyak.
Oleh karena itu tidak ada salahnya jika kita memelihara burung Sanger meskipun tidak untuk dilombakan, tapi bisa kita manfaatkan untuk hiburan dirumah atau sebagai guru vocal burung-burung lainnya.

Demikian sedikit informasi tentang "Mengenal burung Sanger, simungil bersuara lantang". Untuk informasi lain seputar burung Sanger, dapat dibaca pada artikel SANACHINET lainnya.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Sekilas burung Sanger mirip dengan burung Gereja dan persis seperti Kenari. Burung Sanger termasuk burung pemakan biji-bijian seperti halnya burung Kenari
Burung Sanger

Mengenal burung Sanger, simungil bersuara lantang

Perbedaan Murai Batu Lampung super dan Murai Batu Lampung semi - Di alam bebas, Murai Batu (MB) asal Lampung sudah sangat sulit ditemukan karena populasinya yang semakin sedikit bahkan nyaris punah. Tapi jika kita lihat dipasar-pasar burung di Indonesia, sangat mudah kita temui Murai Batu (MB) yang diberi label Murai Batu Lampung, Lampung super dan Lampung semi.
Murai Batu (MB) Lampung dan Lampung super sebetulnya adalah dua jenis Murai Batu dari habitat yang sama di Pulau Sumatera, hanya saja penyebutan Lampung dan Lampung super tersebut berasal dari para pedagang untuk membedakan antara Murai Batu Lampung ekor pendek dan Murai Batu Lampung ekor panjang, sekaligus untuk membedakan harga jual dari keduanya.
Harga jual Murai Batu (MB) Lampung ekor panjang/Lampung super lebih tinggi dari Murai Batu Lampung biasa/ekor pendek, karena para penggemar Murai Batu (MB) lebih menyukai Murai Batu dengan ekor yang panjang menjuntai.
Murai Batu (MB) Lampung dan Lampung super memiliki spesifikasi yang sama, dari segi suara, mental maupun gaya tarungnya, karena keduanya memang berasal dari habitat yang sama. Yang membedakan dari keduanya hanya pada ukuran ekornya saja.
Murai Batu (MB) Lampung memiliki postur tubuh yang sedikit lebih besar dari Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, tapi perbedaan dari sisi fisik yang paling mudah dikenali adalah pada bagian ekornya yang lebih pendek dan cenderung lurus dari pangkal sampai ujung ekor.
Kalau dilihat dari bentuk fisik lainnya secara keseluruhan memang agak sulit untuk membedakan Murai Batu (MB) Lampung dengan Murai Batu asal Sumatera lainnya karena hampir serupa.
Ciri lainnya dari Murai Batu (MB) Lampung adalah pada gaya tarungnya yang menaik turunkan kepalanya seperti mencangkul mirip dengan gaya tarung Murai Batu Borneo/Kalimantan, hanya saja Murai Batu Lampung yang asli tidak menggembungkan bulu dadanya ketika bertarung.
Sedangkan Murai Batu (MB) Lampung semi, sebetulnya bukanlah Murai Batu yang berasal dari Lampung (Sumateta), melainkan dari Kalimantan atau lebih tepatnya Murai Batu Palangka yang memiliki ukuran ekor yang cukup panjang.
Ketika berkicau sendiri tanpa lawan, Murai Batu (MB) Palangka tidak gembung, tapi pada saat ditrek, baru kelihatan Murai Batu (MB) yang disebut Lampung semi tersebut akan mengembangkan bulu-bulunya (gembung).
Secara fisik, Murai Batu (MB) Palangka memang identik dengan Murai Batu (MB) Lampung, hal itulah yang dimanfaatkan oleh para oknum pedagang nakal untuk mencari keuntungan dari ketidak tahuan para penghobi pemula.
Dikarenakan Murai Batu (MB) asal Kalimantan kurang diminati, maka oleh para oknum pedagang nakal diberi label sebagai Murai Batu Lampung semi untuk menarik minat pembeli sekaligus menaikkan harga jualnya.
Jika diperhatikan dari fisiknya, Murai Batu (MB) Palangka memiliki beberapa ciri yang berbeda, baik gradasi warna bulu, warna kaki dan ukuran ekornya.
Ciri-ciri Murai Batu (MB) Palangka/Lampung semi:
• Postur tubuh sedang dengan bentuk agak memanjang.
• Panjang ekor antara 15-18 cm.
• Warna bulu dada coklat hingga coklat tua.
• Warna kaki ada yang hitam pekat, coklat kehitaman (warna tanduk), coklat kemerahan dan putih kekuningan.
Gaya tarung Murai Batu (MB) Palangka sama seperti typical Murai Batu Kalimantan/Borneo lainnya. Murai Batu Palangka juga akan mengembangkan bulu dadanya pada saat tarung, tapi tidak seperti Murai Batu Borneo lainnya, Murai Batu Palangka hanya mengembangkan bulu bagian perut dan sedikit dibagian dada (semi gembung).
Hal itulah yang dimanfaatkan oleh para oknum pedagang nakal untuk menarik minat pembeli sekaligus menaikkan harga jual Murai Batu Palangka tersebut dengan memberikan label Murai Batu (MB) Lampung semi.
Murai Batu (MB) Lampung berasal dari Pulau  Sumatera, dan typical gaya tarung Murai Batu asal Sumatera tidak ada yang mengembangkan bulu-bulu badannya (tidak gembung), berbeda dengan Murai Batu dari Kalimantan/Borneo yang memiliki ciri khas mengembangkan bulu-bulu badannya (gembung) pada saat tarung, termasuk Murai Batu Palangka/Kalimantan super yang sering disebut Murai Batu Lampung semi.
Jadi, bisa kita ambil kesimpulan kalau Murai Batu (MB) Lampung semi bukanlah Murai Batu yang berasal dari Lampung (Sumatera), melainkan dari Kalimantan/Borneo yang diberi label oleh para oknum pedagang nakal sebagai Murai Batu Lampung semi untuk menarik minat pembeli dan menaikkan harga jualnya.
Secara fisik, antara Murai Batu (MB) Lampung dengan Murai Batu (MB) Lampung semi, memang hampir tidak ada bedanya. Yang membedakan dari keduanya hanya pada gaya tarung dan pola ekornya saja.

Perawatan yang tepat untuk Murai Batu (MB) muda hutan (MH) agar cepat ngeplong dan gacor
Demikian sedikit informasi tentang perbedaan Murai Batu Lampung super dan Murai Batu Lampung semi. Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB) bisa dibaca pada artikel SANACHINET yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Pola ekor Murai Batu (MB) Lampung dan Borneo

Perbedaan Murai Batu Lampung super dan Murai Batu Lampung semi

Tledekan gunung termasuk jenis burung fighter yang memiliki suara merdu dan bervariasi. Ukuran tubuh burung ini memang kecil, tapi suaranya cukup keras dan melengking dengan irama serta variasi lagu yang sangat merdu dan harmonis.
Walaupun ukuran tubuhnya kecil, tapi mental burung fighter ini cukup tangguh dan bahkan berani berkicau melawan burung-burung fighter lain yang ukurannya lebih besar.
Kalau sudah mapan, burung ini sangat responsif saat mendengar suara burung lain yang sejenis bahkan burung dari jenis lain. Begitu mendengar suara burung lain, Tledekan gunung akan langsung berkicau.
Untuk membuat Tledekan gumung gacor sebetulnya tidak sulit, asal dirawat dengan tepat dan konsisten. Perawatannyapun standar tidak beda jauh dengan perawatan burung kicau pemakan serangga lainnya yang meliputi:
1. Pengembunan
2. Mandi
3. Jemur
4. Pakan
5. Pemasteran
Perawatan harian untuk Tledekan gunung:
1. Pengembunan
Embunkan Tledekan gunung setiap hari mulai jam 05.00 agar burung bisa menghirup udara segar dan menikmati suasana fajar untuk memancingnya agar rajin berkicau.
2. Mandi
• Mandikan Tledekan gunung tiap pagi, sediakan cepuk mandi didalam kandangnya agar burung bisa mandi sendiri.
• Setelah selesai, ambil cepuknya dan sekalian kandangnya juga dibersihkan agar burung merasa nyaman didalam kandangnya dan selalu sehat.
• Berikan jangkrik kecil 5 ekor kemudian angin-anginkan sampai bulu-bulunya kering.
3. Jemur
• Setelah bulu-bulunya kering, kemudian burung dijemur selama 1 jam.
• Selesai penjemuran berikan kroto segar dan gantang ditempat yang teduh.
• Usahakan menempatkan Tledekan gunung ditempat yang sejuk dan dekat dengan suara gemercik air, karena suara gemercik air akan memancing Tledekan gunung untuk berkicau.
• Pada sore harinya, berikan lagi jangkrik ukuran kecil sebanyak 5 ekor, bersihkan kandangnya kemudian kerodong dan biarkan istirahat sampai pagi.
4. Pakan dan ekstra fooding (EF)
• Berikan voor halus setiap hari sebagai pakan utama Tledakan gunung, ganti voor tiap 3 hari sekali dengan yang baru.
• Air minum diganti setiap hari.
• Berikan jangkrik ukuran kecil setiap hari pagi dan sore.
• Kroto segar atau ulat kandang bisa diberikan seminggu 2-3 kali.
• Ulat hongkong (UH) bisa diberikan pada saat cuaca dingin atau pada saat masa mabung untuk membantu mempercepat perontokan bulu-bulunya.
5. Pemasteran
• Untuk menambah variasi kicauannya, bisa dilakukan pemasteran dengan menggunakan suara burung-burung lain yang gacor atau dengan Mp3 player.
• Tempel Tledekan gunung dengan burung-burung kecil yang gacor seperti burung pleci dan kolibri.
• Selain berfungsi sebagai masteran, suara burung-burung kecil yang gacor tersebut akan memancing Tledekan gunung untuk berkicau menyauti, semakin berisik maka Tledekan gunung juga akan semakin ngotot untuk berkicau karena burung ini memang bertipe fighter.
Dengan perawatan yang teratur dan konsisten, Tledekan gunung yang kita rawat akan menjadi cepat gacor dan bisa dinikmati kemerduan suara kicauannya.

Demikian sedikit informasi tentang tips perawatan Tledekan gunung agar cepat gacor. Untuk informasi lain seputar Tledekan gunung bisa dibaca pada artikel On Kicau yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Tledekan gunung

Tips perawatan Tledekan gunung agar cepat gacor