Halaman

    Social Items

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Jadwal Imsakiyah Bulan Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M untuk Surabaya Dan Sekitarnya


Jadwal Imsakiyah Bulan Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M untuk Surabaya Dan Sekitarnya, jadwal sholat, jadwal puasa wajib, jadwal waktu buka puasa, jam sahur

Jadwal Imsakiyah Bulan Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M untuk Surabaya Dan Sekitarnya

Tgl Hari MasehiImsak Shubuh Terbit DhuhaZhuhurAshrMaghribIsya'
01 Senin 06 Mei04 : 03 04 : 13 05:28 05:5611:2914:5017:2418:35
02 Selasa 07 Mei04:03 04:13 05:28 05:5611:2914:5017:2418:35
03 Rabu 08 Mei04:03 04:13 05:28 05:5611:2914:5017:2318:35
04 Kamis 09 Mei04:03 04:13 05:28 05:5611:2914:5017:2318:35
05 Jum'at 10 Mei04:03 04:13 05:28 05:5611:2914:5017:2318:35
06 Sabtu 11 Mei04:03 04:13 05:28 05:5711:2914:5017:2318:34
07 Ahad 12 Mei04:03 04:13 05:28 05:5711:2914:5017:2318:34
08 Senin 13 Mei04:03 04:13 05:28 05:5711:2914:5017:2218:34
09 Selasa 14 Mei04:03 04:13 05:29 05:5711:2914:5017:2218:34
10 Rabu 15 Mei04:03 04:13 05:29 05:5711:2914:5017:2218:34
11 Kamis 16 Mei04:03 04:13 05:29 05:5711:2914:5017:2218:34
12 Jum'at 17 Mei04:03 04:13 05:29 05:5811:2914:5017:2218:34
13 Sabtu 18 Mei04:03 04:13 05:29 05:5811:2914:5017:2218:34
14 Ahad 19 Mei04:03 04:13 05:29 05:5811:2914:5017:2218:34
15 Senin 20 Mei04:03 04:13 05:30 05:5811:2914:5017:2218:34
16 Selasa 21 Mei04:04 04:14 05:30 05:5811:2914:5017:2218:34
17 Rabu 22 Mei04:04 04:14 05:30 05:5911:2914:5017:2218:34
18 Kamis 23 Mei04:04 04:14 05:30 05:5911:2914:5017:2218:34
19 Jum'at 24 Mei04:04 04:14 05:30 05:5911:2914:5017:2218:35
20 Sabtu 25 Mei04:04 04:14 05:30 05:5911:3014:5017:2218:35
21 Ahad 26 Mei04:04 04:14 05:31 05:5911:3014:5017:2218:35
22 Senin 27 Mei04:04 04:14 05:31 06:0011:3014:5017:2218:35
23 Selasa 28 Mei04:04 04:14 05:31 06:0011:30Ashr17:2218:35
24 Rabu 29 Mei04:04 04:14 05:31 06:0011:3014:5017:2218:35
25 Kamis 30 Mei04:04 04:14 05:31 06:0011:3014:5017:2218:35
26 Jum'at 31 Mei04:05 04:15 05:32 06:0111:3014:5117:2218:35
27 Sabtu 01 Juni04:05 04:15 05:32 06:0111:3014:5117:2218:35
28 Ahad 02 Juni04:05 04:15 05:32 06:0111:3114:5117:2218:36
29 Senin 03 Juni04:05 04:15 05:32 06:0111:3114:5117:2218:36
30 Selasa 04 Juni04:05 04:15 05:33 06:0211:3114:5117:2218:36

Demikian artikel Jadwal Imsakiyah Bulan Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M untuk Surabaya Dan Sekitarnya. Semoga bermanfaat.

Jadwal Imsakiyah Bulan Puasa Ramadhan 1440 H/2019 M untuk Surabaya Dan Sekitarnya

Assalamu'alaikum

Di dalam Islam, laki-laki diharamkan memakai perhiasan yang terbuat dari emas. Dan jika mengacu pada hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dapat ditarik kesimpulan bahwa laki-laki diharamkan memakai perhiasan emas sedangkan bagi wanita tidak.

Apa alasannya? Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori-pori dan masuk ke dalam darah manusia. Jika seorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang akan ditimbulkan adalah di dalam darah dan urine akan mengandung atom Au (emas) dalam kadar yang melebihi batas yang dikenal dengan "migrasi emas".

Apabila hal tersebut terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan menyebabkan penyakit Alzheimer. Alzheimer adalah suatu penyakit dimana penderitanya akan kehilangan semua kemampuan mental dan fisik sehingga menyebabkan penderitanya akan kembali seperti anak kecil.

perintah agama, perintah islam, larangan agama, perintah nabi, laki-laki dilarang pakai emas, perhiasan emas untuk pria, cincin emas, perhiasan emas

Lalu mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk mengenakan emas? Wanita boleh mengenakan emas kaarena wanita tidak menderita masalah ini disebabkan setiap bulan, partikel berbahaya tersebut bisa keluar dari tubuh wanita melalui darah menstruasi.

Penelitian tentang penyakit ini juga menyebutkan bahwa dalam tubuh seorang wanita terdapat sebuah lemak unik. Lemak yang berbeda dan tidak dimiliki oleh seorang laki-laki. Lemak ini akan membantu mencegah unsur senyawa atom emas (Au) masuk kedalam tubuh, sehingga hanya berada di dalam kulit.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan larangan pria memakai perhiasan emas sejak lebih 1400 tahun yang lalu. padahal beliau tidak pernah secara khusus belajar ilmu Fisika dan Kimia seperti di abad modern sekarang ini.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Al-Bara' bin Azib Radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Nabi melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincin yang dikenakannya, kemudian melemparkannya ke tanah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu wahai saudaraku laki-laki muslim, marilah kita melepas perhiasan emas yang menempel di tubuh kita. Janganlah kita menimbun bakal penyakit di dalam tubuh.
Wassalamu'alaikum

Sumber referensi : majalah Nurul Hayat Edisi 126 (Juli 2014), Rubrik 'islam Dan Sains' hal. 20
Sumber gambar : http://cincinemasputih.com

ALASAN ISLAM MELARANG PRIA MEMAKAI EMAS

Alkisah, ada seorang raja yang mempunyai hobi kuliner. Hampir semua masakan enak sudah pernah ia rasakan, sehingga sang raja mulai merasa bosan. Ia ingin mencicipi masakan yang paling nikmat di dunia sehingga ia akhirnya mengadakan KONTES MEMASAK SEDUNIA. Diundanglah para juru masak ternama di dunia untuk membuat masakan yang paling maknyus. namun hasilnya ternyata mengecewakan. Sang raja tidak menemukan makanan yang enak. rasanya standart sehingga raja mengumumkan pembatalan kontes sebab tidak ada pemenang.

Tiba-tiba ada seorang kakek tua mengajukan diri. Ia mengaku bisa menciptakan masakan paling nikmat di dunia. Tapi sang kakek mengajukan syarat. Karena begitu specialnya, masakan itu harus dimasak dan dimakan di atas gunung. Sang raja juga tidak boleh dibantu seorangpun dalam mendaki gunung. Semua syarat tersebut disetujui raja.

hikmah islami, makanan, raja, koki, lapar, lapar ternikmat, islam, cerita islam, sinichinet
sumber gambar : resepmasakanterbaru.com
Esok pagi harinya, Sang raja dan kakek berangkat mendaki. dalam pendakian, sang raja harus bersusah payah karena tidak boleh dibantu oleh pengawalnya. Beberapa kali ia berhenti karena kelelahan, tapi rasa penasaran terhadap makanan yang dijanjikan sang kakek mendorong raja untuk terus mendaki. Menjelang siang, mereka berdua sampai di puncak gunung. Raja sudah tak sabar dan sangat lapar. Kakek tua menyuruh raja istirahat, sementara ia menyiapkan makanan. 30 menit kemudian tersajilah semangkuk sup.

"Silahkan paduka menikmatinya" sang kakek menawarkan hasil masakannya.

Dengan lahap raja menghabiskan sup itu. Sungguh, baru kali ini ia menikmati sup senikmat itu. Setelah habis, sang rajapun bertanya, "Sup apa ini? Rasanya luar biasa."
"Hanya sup jamur bisasa, paduka." jawab sang kakek.
"TIDAK MUNGKIN !! Bagaimana bisa senikmat ini !?" sanggah raja.
Kakek tersenyum, "Itu karena paduka memakannya ketika butuh, yaitu saat paduka benar-benar lapar. Selama ini paduka makan hanya berdasarkan keinginan bukan karena kebutuhan. Paduka makan hannya karena ingin makan, termasuk ketika paduka masih kenyang. Itulah yang membuat masakan koki istana terasa hambar. Saya membawa paduka ke puncak gunung bukan untuk mencari masakan ternikmat di dunia, tapi untuk mencari rasa lapar ternikmat." tutur sang kakek.

Dari sepenggal cerita di atas, sudah seharusnya kita mengambil hikmahnya. Berhati-hatilah jika kita sudah tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena itu bisa memicu ketidak syukuran kita terhadap apa yang telah Allah anugerahkan. Selalu memanjakan keinginan di atas kebutuhan justru akan membuat hidup terasa hambar karena tidak bisa merasakan nikmatnya memenuhi kebutuhan. Hanya memenuhi kebutuhan sewajarnya dan berbagi dengan sisanya, akan membuat seseorang lebih menikmati sesuatu meski sesuatu itu adalah hal yang sederhana.

Sumber referensi :
Majalah Nurul Hayat Edisi 100 (Mei 2012)
Rubrik Rehat (Hal 45)

Baca juga artikel HIKMAH lainnya :

MAKANAN PALING NIKMAT DI DUNIA


Di dalam Islam, orang tua memiliki kedudukan yang mulia terutama kaum Ibu. Rasulullah bahkan telah menegaskan bahwa kedudukan seorang Ibu lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ayah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan :
Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku patuhi?", Kata Nabi, "Ibumu", lelaki itu bertanya lagi, "kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya lagi, "Lalu siapa lagi?", Nabi tetap menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ayahmu"....

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadist tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa kecintaan dan kasih sayang seseorang terhadap Ibunya harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan kecintaan dan kasih sayang seseorang kepada Ayahnya. Realitas menguatkan pengertian ini :

Pertama : Seorang Ibu dihadapkan pada kesulitan dalam menjalani masa kehamilan. 
Kedua : Kaum Ibu mengalami kesulitan besar ketika menjalani proses melahirkan.
Ketiga : Kaum Ibu menjalani kesulitan saat menyusui dan merawat anak.

sinichinet

Terdapat sebuah kisah yang dinukil dari Kitab Adabul Mufrad yang bisa menjadi sebuah ilustrasi betapa kecilnya jasa seorang anak di hadapan Ibundanya. Berikut kisahnya :
'Sesungguhnya diriku adalah tunggangan Ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari'. Sayup-sayup syair pemuda Yaman itu timbul tenggelam di tengah gemuruh talbiyah. Ka'bah yang suci menjadi saksi bagaimana nafasnya tersengal-sengal dalam lelah lantaran di punggungnya terdapat seorang wanita tua. Pemuda yang baik itu memang sangat mencintai Ibunya sehingga ia rela menjadi tunggangan bagi puncak ibadah wanita yang dicintainya itu. Sesudahnya, diiringi keringat yang bercucuran, pemuda yang baik itu mendatangi Ibnu Umar. "Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepada Ibuku?". Ibnu Umar menjawab, "Engkau belum membalas budinya, walaupun hanya setarik nafas yang Ibumu keluarkan ketika beliau melahirkanmu ke dunia"

Sebagai anak, kita memang tidak mungkin bisa membalas jasa orang tua terutama jasa Ibu kita kepada anak-anaknya, sehingga Islam hanya mengajarkan untuk sedapat mungkin menghormati dan meninggikan kedudukan orang tua dengan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan orang tua terutama Ibu kita.

Begitu pentingnya peran seorang ibu sehingga Islam sangat memperhatikan kaum Ibu. Betapa Islam memuliakan mereka dan kita tidak akan menemukan perhatian dan pengayoman kepada kaum perempuan dalam tradisi dan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia.



Sumber referensi :
Majalah Nurul Hayat Edisi 107 (Desember 2012)
Rubrik 'Hikmah Utama' hal. 6-9

Baca juga artikel HIKMAH lainnya :

KEUTAMAAN SEORANG IBU DI DALAM ISLAM